Minggu, 23 Oktober 2011

Pemenang Lomba Puisi BBPB



Angga Septian cahya

Dengan Judul "sang pujaan hati"

Sang Pujaan
Saat kutatap indah wajahmu
Aku selalu teringat akan tatapan Einstein
Yang selalu penuh dengan logika
Yang selalu menanam rumus E = mc^2

Indah matamu sebiru mata Blaise Pascal
Panjang rambutmu terurai dan saling berpotongan diagonal
Senyummu yang meluluhkan trigonometri hatiku
Membuatku selalu berpikir, kaulah untukku

Dari jauh hanya bisa kutatap dirimu
Aku yakin limit cintaku tak terhingga kepadamu
Volume kasihku takkan habis untukkmu
Aku hanya ingin memilikimu
ingin menjadikan dunia kita menjadi satu grafik lurus.

Segala pembuktian akan kutempuh untuk mendapatkan derajat cintamu,PARABOLA CINTAMU,DAN GRAVITASI SAYANG MU.
Menanamkan cintaku pada diameter hatimu
Menggambarkan diagram venn untuk pembuktian cintaku
Hanya untukmu, dan mendapatkanmu.

Setyo Uppy Fredy

Dengan Judul "Negriku Oh Negriku"

Tak bisa kuberkata
Tak bisa kuberucap
Alangkah eloknya negri ini
Pluralisme yg begitu menarik
Nilai-nilai pancasila yg fundamental
Menambah sensasinya negri ini
Toleransi dan solidaritas terikat
Multikulturalisme yg sangat menawan

Namun sekarang bumi pertiwi menjerit...
Konflik yg berkepanjangan
Kesenjangan multidimensional yg sangat tragis
Mungkinkah bangsa ini menangis?

Kalangan elit yg otoriter
Menindas rakyat jelata
Demonstrasi disana-sini
Semakin menambah parahnya negri ini
Korupsi merajalela
Kriminalitas semakin berkembang
Andai aku bisa merubah ini
Negriku...oh negriku...
Betapa malangnya dirimu...!

Setiawan Putraa Kalimaa

Dengan Judul "Kecewa"

Saat kulepaskan elektr0n cinta padamu, hilanglah sudah pkiran negative katoda, jadikan q berpkiran positif ttg dirimu, dan siap untk menarik hatimu..
Sinyal elektr0n cinta trnyata tak sia2, dan JJ thomps0n berjasa pada dunia , yg menemukan muatan yg berbda antara qta, menjadi perekat kuat tuk saling jatuh cinta. . .
Ketika aliran listrik menghujam sanubari qta, berdua qta hantarkan menuju lampu cinta, negativ ke katoda dan positiv pun pergi ke an0da, pertanda kuatnya elektr0lit cinta qta berdua,..
Namun kini ..
Semua sirna sudah
hantaran cinta tlah terhenti, dan tak mgkin dirangkai kembli,
kath0n mu telah berubah haluan, tak lg menuju kat0da, meninggalkan jauh disana, hingga q terpisah di kutub yg berbda,
merana .. .dan kecewa, hati q pun membeku,didasar kat0da yg tak tersentuh di sela2 larutan elektr0lit yg lemah

Lina Magana

Dengan Judul "Dengar Ibaan Satwa"

Spektrum iba menerobos hingga rongga dada
Rambatan ronta terdengar makin menyiksa
Ialah jeritan satwa
Satwa disiksa manusia

Ringkuhan jasad satwa bagai tak bernyawa
Dibengkalai biadab ego manusia
Hidup mereka bagai hanya silsilah fana
Habis mati musnahlah sudah

Namun, masih ada gelintiran manusia
Manusia yang tak sama biadabnya
Manusia yang masih terdapat orbital kosong di dalamnya
Kekosongan untuk mengasihi para satwa
Lhya Luph tenri

Dengan Judul "Ludah yang Kering"

Lihatlah!
masih adakah hati yang berisi?
ketika logika sudah berbau terasi
ketika nurani kian ter-erosi..
di kilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi

Lihatlah!
Dendang-an birokrat dan wakil berdasi..
penuh kegiatan sinetron mengejar kursi
Ketika tikus sibuk pesta korupsi
kucing justru giat pamer gusi...
terbuai diempuknya jok mercy

Lihatlah!
Gempita riuhnya demokrasi
menumbuhkan nurani yang semakin membesi
saat Rakyat butuh nasi..
namun justru di kremasi

Ah, sudahlah!
ini bukan Demonstrasi. .
ini juga bukan mosi...
ini hanyalah puisi...
dari yang hidup namun sesungguhnya mati!

Selasa, 18 Oktober 2011

Mana yang Lebih Banyak, Orang Hidup atau Orang Mati?

Mana yang Lebih Banyak, Orang Hidup atau Orang Mati?

Melihat laju pertumbuhan penduduk dunia tentunya akan membuat kita geleng-geleng kepala. Mungkin pertanyaan pertama yang terpikir oleh Anda ialah apakah beberapa abad ke depan Bumi masih muat menampung seabrek penduduknya? Lalu terbersit pertanyaan di kepala saya: Mana yang lebih banyak, Orang hidup atau orang yang sudah mati? Sebagai gambaran, berikut grafik jumlah penduduk dunia dari tahun ke tahun.

Jadi menurut Anda, manakah yang lebih banyak?

Saya akan mencari solusinya menggunakan model matematika. sebelumnya, kita ambil asumsi-asumsi berikut untuk mempermudah perhitungan.
  1. Gunakan skala waktu dalam generasi (+/- 70 tahun)
  2. Gunakan model diskret dan anggap tiap orang hanya hidup dalam satu selang generasi sehingga pada generasi berikutnya ia dianggap mati. Dengan demikian, jumlah orang yang hidup kita nyatakan dalamf(t) dan jumlah orang yang mati ialah jumlah dari f(0) hingga f(t-1).
  3. Asumsikan fungsi jumlah penduduk berdasarkan waktu  f(t) = t2. Silakan mencoba fungsi lain yang nampaknya sesuai.
Dengan kedua asumsi tadi, kita telah menyederhanakan problem ini sehingga dapat dituliskan sebagai:




Tentu saja model ini hanyalah suatu pendekatan, namun cukup baik untuk menjawab pertanyaan di atas. Nah, di awal pembuktian kita coba ambil persamaan orang mati < orang hidup.



kita ambil lagi pendekatan integral (lihat di sini) sehingga persamaan di atas menjadi:



Dengan memasukkan nilai f(t) diperoleh:













atau jika diintegerkatn t<5.
Kita coba gambarkan tabelnya

t  1  2  3  4  5  
hidup1491625
mati0151430

Terlihat untuk t>5, jumlah orang mati sudah lebih banyak dari orang hidup jika fungsi jumlah pendudukf(t) = t2. Mengingat manusia sudah ada selama puluhan ribu tahun, tentu saja sudah berada pada t yang sangat besar. Silakan analisis fungsi fungsi jumlah penduduk dunia menggunakan regresi kalau masih tidak percaya. Jika Anda hitung dan memasukkan funsinya dalam model di atas saya yakin jumlah orang yang sudah mati lebih banyak daripada jumlah orang yang hidup. Malah jika diteliti dengan seksama, berapapun tanjakan dari fungsi f(t), t10 sekalipun akan ada suatu waktu di mana jumlah orang mati melampaui yang hidup.


[UPDATE]
Berikut adalah koreksi berdasarkan komentar dari Pak Mariano, saya mengucapkan banyak terima kasih atas apresiasinya terhadap tulisan saya dan sikap kritisnya yang patut ditiru. Saya sengaja hanya menambahkan update di bagian bawah -- tidak memposting ulang, selain karena pemodelan yang lalu setelah saya teliti tidak ada yang keliru, hanya pendekatan fungsi saya yang kurang tepat, tentu saja juga karena proses berpikir itu indah. Sekarang saya akan mengambil fungsi eksponensial satu suku dengan mantissa sembarang yang dapat ditulis f(t) = xt, di mana x kelipatan jumlah penduduk (hidup) tiap masa satu generasi. Jika dimasukkan dalam model menjadi:













Agar t memiliki nilai, nilai dalam kurung (yang di-log-kan) harus bernilai lebih besar dari nol (ingat log dari bilangan nonpositif tak terdefinisi). Dengan metode komputasi, saya peroleh x ≈ 1,972 dengan kata lain thanya terdefinisi untuk x < 1,972. Nah,pertanyaannya apakah dalam kenyataan nilai x ini lebih kecil dari pada 1,972? Setelah meninjau data-data jumlah penduduk dunia (dapat dilihat di sini atau di sini). Dengan mengingat asumsi ke-1 saya mengambil kisaran sebagai berikut:

tahun     jumlah penduduk (trilyun)
16100,5
16800,6
17500,72
18201,0
18901,5
19603,1
2030~9(perkiraan)

Berdasarkan data belakangan ini diperoleh rasio rata-rata tidak sampai dua kali, apalagi untuk periode yang lebih lama dari 1610. Tentu saja terlihat rasio semakin meningkat juga dan jikalau prediksi pada tahun 2030 sesuai maka rasionya menjadi 3. Mungkin karena belakangan ini tidak ada perang besar dan bangsa-bangsa Asia tengah menggenjot perkembangannya. Well, karena di sini saya mendapat rasionya lebih kecil dari pada 2 dan sedikit lagi cakaran pada kertas saya, saya mengambil kesimpulan jumlah orang mati masih lebih banyak dibanding orang hidup. Tapi mengingat rasio itu cenderung bertambah bisa saja pada suatu masa orang hidup menjadi lebih banyak.